Kamu pernah nggak, denger berita “The Fed naikin suku bunga lagi”? Atau baca status teman yang panik karena Bank Indonesia (BI) ngikut naikin juga? Sementara kamu masih bingung, “Ini apaan sih? Kenapa rame banget?” Tenang, kamu nggak sendirian. Banyak orang—termasuk yang udah kerja kantoran belasan tahun—masih mikir istilah ini tuh kayak pelajaran ekonomi yang cuma penting pas ujian doang. Padahal, angka satu ini bisa ngaruh ke cicilan, tabungan, bahkan harga cabai. Yuk, kita bahas tuntas tapi tetap santai.
Angka yang Gak Sekadar Angka
Sebelum ngomongin jauh, mari kita mulai dari yang dasar: apa itu suku bunga? Sederhananya, ini adalah biaya yang kamu bayar saat meminjam uang, atau imbalan yang kamu dapat saat menaruh uang di bank. Jadi, kalau kamu minjem uang ke bank, istilah ini itu tambahan bayaran yang mesti kamu kasih. Tapi kalau kamu nabung, ini hadiah kecil-kecilan dari bank karena kamu udah “titip uang” ke mereka.
Menurut OJK dalam peraturan POJK 13 Tahun 2024, suku bunga dasar kredit (SBDK) digunakan sebagai dasar penetapan bunga kredit yang akan dikenakan oleh bank kepada nasabah. SBDK belum memperhitungkan komponen estimasi premi risiko yang besarnya tergantung dari penilaian bank terhadap risiko masing-masing debitur atau kelompok debitur. Dengan demikian, besarnya bunga kredit yang dikenakan kepada debitur belum tentu sama dengan SBDK. (OJK)
Skena Global yang Bikin Deg-degan
Nah, sekarang masuk ke wilayah yang lebih luas. Kamu mungkin pernah denger soal The Fed. Ini lembaga di Amerika Serikat yang bisa bikin efek domino ke seluruh dunia. Ketika mereka naikin tingkat bunga, dolar AS jadi makin seksi. Negara-negara lain, termasuk Indonesia, bisa jadi ikut naikin juga biar investor nggak kabur ke AS.
Kapan The Fed menurunkan suku bunga? Biasanya pas ekonomi mereka lagi seret. Tujuannya biar orang-orang dan bisnis lebih gampang minjem uang, konsumsi naik, dan roda ekonomi muter lagi.
Mainan BI di Balik Layar
Kita balik ke lokal. BI 7-Day Reverse Repo Rate itu adalah senjata utama Bank Indonesia buat ngatur ekonomi dalam negeri. Kalau inflasi lagi tinggi, BI biasanya bakal naikin tingkat acuan ini buat nge-rem konsumsi dan stabilin harga. Tapi kalau ekonomi lemah, BI bisa nurunin acuan tersebut biar bisnis dan masyarakat lebih pede ngeluarin uang.
Per April 2025, BI memutuskan untuk mempertahankan bunga acuan sebesar 5,75%. Keputusan ini diambil untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global.
Jadi Gimana Efeknya ke Kita?
Nah ini nih yang paling penting. Apa yang terjadi jika suku bunga naik? Banyak. Mulai dari:
- Cicilan Kredit Naik
Kredit rumah, motor, sampai kartu kredit bisa jadi lebih mahal. Bayarannya jadi lebih gede, apalagi buat yang ambil cicilan dengan sistem mengambang. - Simpanan Lebih Menguntungkan (kadang)
Kalau kamu punya tabungan atau deposito, naiknya tingkat bunga bisa bikin kamu dapat bunga lebih gede. Tapi jangan senang dulu—kenaikan ini nggak selalu cepat diikuti oleh bank, jadi sabar ya. - Harga-harga Bisa Naik atau Turun
Naik-turunnya angka ini bisa memengaruhi harga barang kebutuhan. Misalnya, kalau BI naikin bunga, biasanya permintaan turun, dan harga-harga bisa ikut stabil.
Pusing Gak? Nih, Ilustrasi Kasar
Misalnya kamu pinjam Rp100 juta buat kredit rumah dengan bunga 5%. Nah, apa arti angka 5% itu? Artinya kamu kudu bayar bunga Rp5 juta per tahun. Kalau tiba-tiba naik jadi 7%, bunga tahunan kamu jadi Rp7 juta. Selisih Rp2 juta itu bukan cuma angka—itu bisa jadi pulsa, langganan Netflix, atau bahkan biaya vaksin anak.
Kalau kamu nabung Rp 10 juta di bank dengan bunga tabungan 3%, kamu bakal dapat Rp300 ribu setahun. Tapi ingat, bunga tabungan itu kecil banget dibanding bunga pinjaman. Jadi, jangan terlalu berharap banyak.
Satu Bunga, Banyak Wajah
Biar makin paham, yuk kenalan sama contoh jenis-jenis bunga yang sering kamu temui:
- Bunga Tetap (Fixed Rate): Nggak berubah sepanjang masa cicilan.
- Bunga Mengambang (Floating Rate): Bisa berubah sesuai kondisi pasar.
- Bunga Efektif: Dihitung dari sisa pokok pinjaman, biasanya lebih adil.
- Bunga Flat: Dihitung dari jumlah pinjaman awal terus, biasanya lebih mahal secara total.
Masing-masing punya plus minus, tergantung kebutuhan kamu. Jadi kalau mau ambil pinjaman, jangan cuma lihat cicilan per bulan doang—lihat juga jenis bunganya.
Oke, Terus Gimana Harusnya?
Tenang. Kamu nggak harus jadi ekonom buat bisa survive di dunia yang penuh angka ini. Tapi ada beberapa hal yang bisa kamu lakukan:
- Rajin Update Info dari BI atau The Fed
Nggak usah tiap hari, tapi cek sebulan sekali buat tahu arah kebijakan ekonomi. - Bandingin Produk Keuangan Sebelum Ambil Keputusan
Banyak platform kayak CekAja atau Komparasi Kontan yang bisa bantu kamu bandingin pinjaman dan tabungan. - Jangan Ngutang Asal-asalan
Sadar kemampuan bayar kamu. Jangan tergoda promo bunga 0% kalau kamu nggak yakin bisa bayar lunas.
Gak Paham Suku Bunga? Bisa Bahaya Buat Dompet Kamu
Istilah yang satu ini emang keliatan kayak urusan bank dan negara doang, tapi nyatanya dia bisa nyentil semua aspek hidup kamu. Dari tagihan bulanan sampai rencana liburan. Jadi, makin kamu ngerti soal ini, makin kamu bisa ambil keputusan keuangan yang waras.
baca juga: Hutang Harus Dilunasi Biar Gaji Gak Numpang Lewat!






